Sabtu, 13 Agustus 2016

Dalam Dekapan Rindu

Mencinta dalam diam, memeluk berjuta rasa, menyimpannya dibilik hati terdalam. Tidak ada yang salah dengan rasa suka, sebab hadirnya tak pernah diminta. 
Rasa yang dulu hanya berupa titik, kian hari bertambah besar, karena keimanan. 
Awalnya sekedar suka yang dibubui penglihatan dunia. Segala keindahan membawa pada rasa kagum. Keelokan paras, ketajaman berfikir, luwes bergaul, memiliki sikap bertanggung jawab, dan kekaguman itu tumbuh tanpa paksaan. 
Memesona dari sekian banyak laki-laki, berbeda dengan anak remaja pada umumnya. Apa yang nampak telah merenggut simpati dari seorang gadis. 
Rasa suka sama halnya seperti gadis remaja lainnya, muncul karena rasa kagum atas apa yang telihat baik. 
Si gadis sangat setia dengan rasa suka, yang ia simpan rapat. Tak pernah terucap, tak perlihatkan di perlihatkan dengan sikap. 
Waktu terus bergulir, hari berlompat keminggu, minggu berganti bulan, hingga tahun berganti tahun. Rasa suka itu masih ada, tersembunyi diantara sekian banyak kerinduan.  
Perjalan hidup telah mengantarkan sang gadis pada penemuan jati diri, menemukan arti kehidupan sesungguhnya. Maka rasa suka tak lagi dipedulikannya. Hari-hari ia jalani untuk memperbaiki diri. Mengeja kekuasaan Rabb, pemilik kerajaan langit dan bumi. Hidupnya tak lain untuk beribadah, bertakkarub dan mentadabburi ayat-ayat Al-qur'an. Kecintaannya kepada sang Maha Rahman, melambung hingga langit ketujuh. Tak ada lagi cinta yang ingin dikejar selain mengejar cinta Tuhannya.
Entah apa rencana Allah, bola-bola takdir menggelinding. Gadis itu menemukan sosok pujaan didunia maya. Sosok laki-laki yang telah lama tidak pernah bersua. Sedikit bahagia menyelimuti hati, sosok yang ia rindu telah ditemukannya kembali. 
Ada rasa haru bergemuruh dihati, karena laki-laki itupun telah berhijrah. Seperti halnya dirinya yang telah berhijrah pula.
Rasa kagum yang telah memudar, bersemi kembali.
Ujian keimanan menyapa, rindu kembali mendekap, kekaguman merenggut separuh perhatian yang ia miliki. Sang gadis bertarung melawan perasaan dan berjuang mepertebal keimanan.
Hingga ia kemudian berdoa kepada Allah agar perasaan yang ia miliki ditangguhkan dulu jika seandainya ditakdirkam berjodoh. Jika memang tidak ia meminta agar perasaan yang ia miliki dihilangkan agar tak ada fintah yang mampu mengusutkan keimanan. 
Hari kehari ia menyibukkan diri, memiliki melupakan dengan cara terbaik. Menjalani kehidupan seperti sediakala sebelum ia dipertmukan dengan laki-laki tersebut.
Usaha yang ia lakukan menuai hasil, ia tak lagi dirundung kerinduan. Semangat menjadi lebih baik dan menggapai cita-cita berkobar.
Hingga tiba disuatu hari, dimana ia tak pernah terpikir olehnya. Pengakuan dari seorang sahabat yang juga mencintai laki-laki yang selama ini ia cintai. 
Bagai disambar petir, selamanya ia selalu memendam rasa, mengadukan pada Allah. 
Pegakuan itu membuatnya sedih, mengapa sahabatnya sendiri dan mengapa harus mencintai orang yang sama. 
Duka dan air mata meleleh, ada rasa sedih dan lucu bercampur. Sebisanya berpura-pura bahagia. Ikut mendengarkan apa yang dirasakan sahabatnya. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar