Rabu, 17 Agustus 2016

Menikahlah dengannya

Menikahlah dengannya, ia wanita baik dan insyaAllah soleha. Wanita itu kadang membuatku malu, sunggguh apa yang telah ia jalani selama ini membuatku takjub. Ia hebat, dalam kesederhanaan yang ia punya tak pernah sekalipun ia mengeluh. Kekurangan yang ia miliki tak pernah ia jadikan penghalang, berjuang ditengah keterbatasan dan kesulitan ekonomi. Sementara aku, kelapangan yang kupanya tidak ku manfaatkan sebaik mungkin, masih sering mengeluh jarang sekali bersyukur. Keimananku, tak jarang aku sering bertanya benarkah aku beriman? Sementara lisanku tak pernah berhenti mengeluh, batinku jarang merasakan kepuasan.

Menikahlah dengannya, ia ingin mengokohkan keimanan menjaga keitiqomahan. Ia ingin seperti kami, memiliki banyak kesempatan untuk belajar agama. Tapi ia tak punya kesempatan, ia harus menjalani hidup oleh pilihan orang lain. Ia ingin banyak belajar tentang Diin islam agar imannya bertambah, semakin dekat dengan Rabb.

Menikahlah dengannya, ia berharap kau membawanya pergi lalu bersama-sama menjalani kehidupan mengarungi bahtera. Ia berharap kau kan membimbingnya, membawanya menjadi sebaik-baik perhiasan dunia. Ada banyak laki-laki yang soleh diluar sana, namun ia lebih memilih dirimu. Ia percaya bahwa denganmulah ia akan menemukan kehidupan yang lebih baik. Hanyalah kaulah satu-satunya laki-laki yang ingin ia abdikan seluruh hidupnya.

Menikahlah dengannya, karena dari sekian banyak laki-laki, hatinya telah memilih dirimu. Ia tidak pernah menemukan laki-laki sepertimu, keimanan yang ada padamu itulah membuatnya terpikat. Jangan salahkan perasaan yang ia miliki, sebab iapun tidak pernah meminta untuk jatuh cinta. Berilah cintamu untuknya, wanita yang sedang berjuang memperbaiki diri, menjadi sebaik-baik hamba.

Menikahlah dengannya, sungguhpun cinta dihatimu mungkin belum ada, percayalah suatu hari kau akan mencintainya. Karena ketulusan yang ia miliki, karena keimanan yang ia punya. Ia berharap jika kau datang segera meminagnya, menentukan tanggal pernikahan, lalu menghalalkannya. Tak ada lagi yang ia harapkan selain itu, tentang kesucian kau tak perlu khawatir ia adalah wanita yang sangat menjaga kesuciannya. Ia pandai menjaga kehormatannya, karena ia sangatlah menghargai diri.

Bapar Melelahkan

Bungkus galaumu lalu buang jauh.
Galau itu tidak akan membuat kamu sukses.
Okeylah kalau kamu jodoh, galaunya berbuah hasil. Tapi kalau tidak kamu akan galau berkepanjangan.
Ia kalau dia nungguin kamu, kalau dia nungguin orang lain. Biarpun nungguin kamu tapi kalau dia bukan jodih kamu. Kamu bisa apa?
Hidup nggak usah dibuat ribet, suka ya suka aja. Entar juga kalau jodoh ketemu. Nggak usah di baperin, nggak usah digalauin. Memangnya kamu bakalan dapat apa.
Fokus sama apa yang harus dikejar, baper sama apa yang harus dibaperin. Impianmu jauh lebih penting. Kalau dia ngalangin, singkirkan aja.
Jangan dibuat ribet, cinta sejati itu simple. Pokoknya dia bakal datang kalau dia memang cinta sejati kamu.
Capek tau beper, capek tau galau mulu. Keep spirit, let's move. Ngapain Diam ditempat, teman-teman kamu jauh lebih seru.
Intinya kalau jodoh pasti ketemu.

Senin, 15 Agustus 2016

Alasan Demi Alasan

Aku hanya butuh alasan untuk melangkah, pergi jauh tanpa sesak didada. Segudang alasan membuatku bertahan hingga detik ini, alasan mengapa masih ada cinta dan rindu meski tak ada penjelasan kapan akan berbalas. 

Alasan yang membuatku bertahan menunggu sosok istiemewah. Alasan menjadikan pengharapan yang membumbung tinggi agar kelak Allah kan mempertemukanku dengannya. 

Alasan kian hari kian membesar sampai pada satu titik alasan, aku ingin bersamanya berjuang di jalan-Nya. Aku mencintainya karena Allah, keimanan yang ada pada dirinyalah yang membuat hati ini terpaut. 

Pertanyaan sampai kapan kadang menghantui, sampai kapan aku bertahan dengan perasaan yang boleh jadi tidak akan terbalas. Sampai kapan aku menunggu, yang barangkali saja dia yang ditunggu tidak pernah menunggu. 

Alasan aku mencintainya yang tidak pernah membuatku mampu menemukan alasan lain untuk berhenti berharap. Jika harapan itu lusuh, maka keimanan yang ada padanya mulai lusuh pula. Satu-satunya alasan yang akan membuatku berhenti mencintai ketika keimanan yang pada dirinya memudar. Sesuatu yang mustahil jika aku meminta pada Rabbku, agar dihilangkan keimanan pada dirinya agar aku berhenti mencintainya. 

Hari demi hari cinta dengan alasan keimanan itu tidak berubah walau semili. Semakin besar keimanan semakin besar pula cinta yang bersemi di hati. Alasan apalagi yang harus aku cari agar berhenti menanti. Tidak pernah ku temui alasan dan akhirnya memilih membiarkan perasaan tetap tersimpan rapi. 

Hingga satu alasan itu datang mengahampiri, alasan yang membuatku tidak perlu berfikir dua kali untuk melangkah pergi. Bukan keimanan yang memudar, bukan pula karena penjelasan atas penantian panjang. Aku memilih berbalik dan menyerahkan semua perasaan ke pada Allah. Alasan karena seseorang juga yang mencintainya, seseorang yang berharap jika bersamanya ia akan menjadi lebih baik, dan mampu menjaga keistiqomahaanya.

Dua prinsip yang berbeda namun memiliki tujuan yang sama. Aku ingin bersama sebab ingin berjuang di jalan-Nya, seseorang itu ingin bersama sebab ingin tetap istiqomah menjadi muslimah yang patuh dan taat pada perintah-Nya. Kedua-duanya memiliki tujuan sama ingin menjadi hamba yang disayangi-Nya. Kerelaan untuk mengikhlaskan seseorang dan sosok istimewah, berharap kemudian Allah mempertemukan keduanya dalam ikatan yang suci. 

Seseorang itu adalah wanita yang sabar, menjalani kehidupan tanpa sosok ibu membuatnya tangguh. Ujian demi ujian ia hadapi, kesendirian dalam kesepian mampu membuatnya menghadapi rasa takut. Kepayahan dan kesulitan mampu ia terjang. Apa yang aku rasakan dan apa yang aku dapatkan lebih dari cukup untuk membuatku bahagia. Aku memiliki Allah, dengan-Nya aku tidak merasa kekurangan dan kehilangan apapun. 

Alasan ada dalam genggam, alasan yang akan membuatku pergi dan berhenti berharap. Segala sesuatu yang terjadi aku serahkan sepenuhnya kepada Sang pemilik takdir. Tak ada alasan lagi untuk mencinta dan tak ada lagi alasan untuk berharap. Aku rido jika Allah mempertemukan mereka dalam ikatan pernikahan. Aku akan menjadi bagian orang-orang yang berbahagia jika keduanya menjadi sepasang suami istri. 

Maa fii qalbi gairullah...

Sejumput Keikhlasan

      Entah apa yang difikirkan oleh sang gadis, nampak sendu dan sedih menggelayut diwajahnya. Ia mencerna peristiwa yang terjadi, memahami tiap detil kisah mengambil makna dan merenunginya. Mungkin sudah waktunya, ada orang tahu selain diri sendiri. Rasa suka itu tidak pernah diumbar, di pamer bahwa memang ia mencintai namun ia biarkan rasa itu membenam dalam hati. Seharusnya tak selamanya ia bungkam perihal perasaan, harus ada orang yang tahu agar paham sebatas mana ia berharap. 
     
Ia tidak prnah mencintai seseorang bertahun-tahun lamanya, hingga ia lupa bagaimana merelakan rasa cinta yang ia miliki. Ikhlas satu kata yang kini coba ia pelajari, meski tidak mudah namun sadar memaksakan perasaan bisa jadi merusak jalan cerita. Ia melibatkan logika melawan perasaan, harus ada yang di ikhlaskan, harus ada yang direlakan pergi.
     
Seminggu cukup baginya mengambil keputusan, rela melepaskan perasaan yang ia miliki. Tidak ada yang harus dipaksakan, karena cinta sejatinya memberi bukan meminta.
    
Cukup mencintai Allah dan meletakkan cinta itu dihati. Sungguh rasa cinta pada-Nya telah memenuhi rongga. Ia ikhlas menjadi perantara antara sahabat dan lelaki yang ia cintai. Apa yang ia miliki selama ini lebih dari cukup untuk membuatnya bahagia. Keimanan didada mampu menjamin bahwa ia akan tetap bahagia.
      
Tinggalah waktu yang akan bercerita kelak, masa lalu berbagi memori. Bahwa ada seseorang dengan keikhlasan dan ketegaran yang ia punya mampu mengalahkan perasaan bertahun-tahun yang ia pendam.
      
Tidak ada yang berakhir karena semua baru saja dimulai, perasaan yang teronggok lama perlahan kan ia hapus. Walau kenyataannya ia tidak pernah tahu apakah laki-laki yang ia cintai pun memiliki rasa yang sama. Bukan lagi soal berbalas perasaan yang terfikir olehnya, ada sesuatu yang jauh lebih penting. Sebelum terlanjur dan pengharapan itu kian membesar ia memilih pergi.
       
Kini ia telah menemukan alasan untuk melangkah, sesuatu yang ia cari sejak lama. Alasan yang mengajarkan sebuah keikhlasan, alasan yang membawanya pada alasan-alasan lainnya. Alasan yang mengajarkan apa yang dimilikinya selama ini sudah lebih dari cukup membuatnya bahagia dan saatnya ia harus berbagi kebahagiaan dengan orang yang ia cintai bersama orang yang akan dipilih menjadi pendamping hidupnya nanti.
      Allah maha rahman...

Sabtu, 13 Agustus 2016

Berburu kesibukan hingga tak ada lagi kegalauan yang bersisah. Hingga tak perlu ada lagi gelisah yang menyiksa.

Dalam Dekapan Rindu

Mencinta dalam diam, memeluk berjuta rasa, menyimpannya dibilik hati terdalam. Tidak ada yang salah dengan rasa suka, sebab hadirnya tak pernah diminta. 
Rasa yang dulu hanya berupa titik, kian hari bertambah besar, karena keimanan. 
Awalnya sekedar suka yang dibubui penglihatan dunia. Segala keindahan membawa pada rasa kagum. Keelokan paras, ketajaman berfikir, luwes bergaul, memiliki sikap bertanggung jawab, dan kekaguman itu tumbuh tanpa paksaan. 
Memesona dari sekian banyak laki-laki, berbeda dengan anak remaja pada umumnya. Apa yang nampak telah merenggut simpati dari seorang gadis. 
Rasa suka sama halnya seperti gadis remaja lainnya, muncul karena rasa kagum atas apa yang telihat baik. 
Si gadis sangat setia dengan rasa suka, yang ia simpan rapat. Tak pernah terucap, tak perlihatkan di perlihatkan dengan sikap. 
Waktu terus bergulir, hari berlompat keminggu, minggu berganti bulan, hingga tahun berganti tahun. Rasa suka itu masih ada, tersembunyi diantara sekian banyak kerinduan.  
Perjalan hidup telah mengantarkan sang gadis pada penemuan jati diri, menemukan arti kehidupan sesungguhnya. Maka rasa suka tak lagi dipedulikannya. Hari-hari ia jalani untuk memperbaiki diri. Mengeja kekuasaan Rabb, pemilik kerajaan langit dan bumi. Hidupnya tak lain untuk beribadah, bertakkarub dan mentadabburi ayat-ayat Al-qur'an. Kecintaannya kepada sang Maha Rahman, melambung hingga langit ketujuh. Tak ada lagi cinta yang ingin dikejar selain mengejar cinta Tuhannya.
Entah apa rencana Allah, bola-bola takdir menggelinding. Gadis itu menemukan sosok pujaan didunia maya. Sosok laki-laki yang telah lama tidak pernah bersua. Sedikit bahagia menyelimuti hati, sosok yang ia rindu telah ditemukannya kembali. 
Ada rasa haru bergemuruh dihati, karena laki-laki itupun telah berhijrah. Seperti halnya dirinya yang telah berhijrah pula.
Rasa kagum yang telah memudar, bersemi kembali.
Ujian keimanan menyapa, rindu kembali mendekap, kekaguman merenggut separuh perhatian yang ia miliki. Sang gadis bertarung melawan perasaan dan berjuang mepertebal keimanan.
Hingga ia kemudian berdoa kepada Allah agar perasaan yang ia miliki ditangguhkan dulu jika seandainya ditakdirkam berjodoh. Jika memang tidak ia meminta agar perasaan yang ia miliki dihilangkan agar tak ada fintah yang mampu mengusutkan keimanan. 
Hari kehari ia menyibukkan diri, memiliki melupakan dengan cara terbaik. Menjalani kehidupan seperti sediakala sebelum ia dipertmukan dengan laki-laki tersebut.
Usaha yang ia lakukan menuai hasil, ia tak lagi dirundung kerinduan. Semangat menjadi lebih baik dan menggapai cita-cita berkobar.
Hingga tiba disuatu hari, dimana ia tak pernah terpikir olehnya. Pengakuan dari seorang sahabat yang juga mencintai laki-laki yang selama ini ia cintai. 
Bagai disambar petir, selamanya ia selalu memendam rasa, mengadukan pada Allah. 
Pegakuan itu membuatnya sedih, mengapa sahabatnya sendiri dan mengapa harus mencintai orang yang sama. 
Duka dan air mata meleleh, ada rasa sedih dan lucu bercampur. Sebisanya berpura-pura bahagia. Ikut mendengarkan apa yang dirasakan sahabatnya. 


Jumat, 12 Agustus 2016

Catatan Adibah

Ada rasa yang semestinya hanya Allah yang tahu. Mendekap perasaan, hingga tiba waktunya.