Aku hanya butuh alasan untuk melangkah, pergi jauh tanpa sesak didada. Segudang alasan membuatku bertahan hingga detik ini, alasan mengapa masih ada cinta dan rindu meski tak ada penjelasan kapan akan berbalas.
Alasan yang membuatku bertahan menunggu sosok istiemewah. Alasan menjadikan pengharapan yang membumbung tinggi agar kelak Allah kan mempertemukanku dengannya.
Alasan kian hari kian membesar sampai pada satu titik alasan, aku ingin bersamanya berjuang di jalan-Nya. Aku mencintainya karena Allah, keimanan yang ada pada dirinyalah yang membuat hati ini terpaut.
Pertanyaan sampai kapan kadang menghantui, sampai kapan aku bertahan dengan perasaan yang boleh jadi tidak akan terbalas. Sampai kapan aku menunggu, yang barangkali saja dia yang ditunggu tidak pernah menunggu.
Alasan aku mencintainya yang tidak pernah membuatku mampu menemukan alasan lain untuk berhenti berharap. Jika harapan itu lusuh, maka keimanan yang ada padanya mulai lusuh pula. Satu-satunya alasan yang akan membuatku berhenti mencintai ketika keimanan yang pada dirinya memudar. Sesuatu yang mustahil jika aku meminta pada Rabbku, agar dihilangkan keimanan pada dirinya agar aku berhenti mencintainya.
Hari demi hari cinta dengan alasan keimanan itu tidak berubah walau semili. Semakin besar keimanan semakin besar pula cinta yang bersemi di hati. Alasan apalagi yang harus aku cari agar berhenti menanti. Tidak pernah ku temui alasan dan akhirnya memilih membiarkan perasaan tetap tersimpan rapi.
Hingga satu alasan itu datang mengahampiri, alasan yang membuatku tidak perlu berfikir dua kali untuk melangkah pergi. Bukan keimanan yang memudar, bukan pula karena penjelasan atas penantian panjang. Aku memilih berbalik dan menyerahkan semua perasaan ke pada Allah. Alasan karena seseorang juga yang mencintainya, seseorang yang berharap jika bersamanya ia akan menjadi lebih baik, dan mampu menjaga keistiqomahaanya.
Dua prinsip yang berbeda namun memiliki tujuan yang sama. Aku ingin bersama sebab ingin berjuang di jalan-Nya, seseorang itu ingin bersama sebab ingin tetap istiqomah menjadi muslimah yang patuh dan taat pada perintah-Nya. Kedua-duanya memiliki tujuan sama ingin menjadi hamba yang disayangi-Nya. Kerelaan untuk mengikhlaskan seseorang dan sosok istimewah, berharap kemudian Allah mempertemukan keduanya dalam ikatan yang suci.
Seseorang itu adalah wanita yang sabar, menjalani kehidupan tanpa sosok ibu membuatnya tangguh. Ujian demi ujian ia hadapi, kesendirian dalam kesepian mampu membuatnya menghadapi rasa takut. Kepayahan dan kesulitan mampu ia terjang. Apa yang aku rasakan dan apa yang aku dapatkan lebih dari cukup untuk membuatku bahagia. Aku memiliki Allah, dengan-Nya aku tidak merasa kekurangan dan kehilangan apapun.
Alasan ada dalam genggam, alasan yang akan membuatku pergi dan berhenti berharap. Segala sesuatu yang terjadi aku serahkan sepenuhnya kepada Sang pemilik takdir. Tak ada alasan lagi untuk mencinta dan tak ada lagi alasan untuk berharap. Aku rido jika Allah mempertemukan mereka dalam ikatan pernikahan. Aku akan menjadi bagian orang-orang yang berbahagia jika keduanya menjadi sepasang suami istri.
Maa fii qalbi gairullah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar